Rabu, 11 Januari 2017

Tafsir Ali Imran Ayat 144-151


Ayat 144-148: Sifat manusia pada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, berlanjutnya dakwah setelah Beliau wafat sampai hari Kiamat
وَمَا مُحَمَّدٌ إِلا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ أَفَإِنْ مَاتَ أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلَى أَعْقَابِكُمْ وَمَنْ يَنْقَلِبْ عَلَى عَقِبَيْهِ فَلَنْ يَضُرَّ اللَّهَ شَيْئًا وَسَيَجْزِي اللَّهُ الشَّاكِرِينَ (١٤٤) وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ أَنْ تَمُوتَ إِلا بِإِذْنِ اللَّهِ كِتَابًا مُؤَجَّلا وَمَنْ يُرِدْ ثَوَابَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَنْ يُرِدْ ثَوَابَ الآخِرَةِ نُؤْتِهِ مِنْهَا وَسَنَجْزِي الشَّاكِرِينَ (١٤٥) وَكَأَيِّنْ مِنْ نَبِيٍّ قَاتَلَ مَعَهُ رِبِّيُّونَ كَثِيرٌ فَمَا وَهَنُوا لِمَا أَصَابَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَمَا ضَعُفُوا وَمَا اسْتَكَانُوا وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ (١٤٦) وَمَا كَانَ قَوْلَهُمْ إِلا أَنْ قَالُوا رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ (١٤٧) فَآتَاهُمُ اللَّهُ ثَوَابَ الدُّنْيَا وَحُسْنَ ثَوَابِ الآخِرَةِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (١٤٨
Terjemah Surat Ali Imran Ayat 144-148
144. Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul. Sungguh, telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul[1]. Apakah jika dia wafat atau dibunuh, kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barang siapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak akan merugikan Allah sedikit pun[2]. Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur[3].
145. Dan setiap yang bernyawa tidak akan mati kecuali dengan izin Allah[4], sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya[5]. Barang siapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala (dunia) itu, dan barang siapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya pahala (akhirat) itu. Dan Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur[6].

146.[7] Dan betapa banyak Nabi yang berperang didampingi sejumlah besar dari pengikut(nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, tidak patah semangat dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah mencintai orang-orang yang sabar.
147. Tidak ada doa mereka selain ucapan: "Ya Tuhan Kami, ampunilah dosa-dosa Kami dan tindakan-tindakan Kami yang berlebihan (dalam) urusan kami[8], tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir"[9].
148. Karena itu Allah memberikan kepada mereka pahala di dunia[10] dan pahala yang baik di akhirat[11]. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan[12].
Ayat 149-151: Peringatan bagi kaum mukmin agar waspada terhadap ajakan orang-orang kafir
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تُطِيعُوا الَّذِينَ كَفَرُوا يَرُدُّوكُمْ عَلَى أَعْقَابِكُمْ فَتَنْقَلِبُوا خَاسِرِينَ (١٤٩)      بَلِ اللَّهُ مَوْلاكُمْ وَهُوَ خَيْرُ النَّاصِرِينَ    (١٥٠) سَنُلْقِي فِي قُلُوبِ الَّذِينَ كَفَرُوا الرُّعْبَ بِمَا أَشْرَكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَمَأْوَاهُمُ النَّارُ وَبِئْسَ مَثْوَى الظَّالِمِينَ      (١٥١)
Terjemah Surat Ali Imran Ayat 149-151
149. Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menaati orang-orang yang kafir[13], niscaya mereka akan mengembalikan kamu ke belakang (murtad), lalu kamu menjadi orang-orang yang rugi.
150. Tetapi (ikutilah Allah), Allah-lah Pelindungmu, dan Dia sebaik-baik penolong[14].
151. Akan Kami masukkan rasa takut ke dalam hati orang-orang kafir[15], karena mereka mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah sendiri tidak menurunkan keterangan tentang itu. Tempat kembali mereka ialah neraka; dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal orang-orang yang zalim.

[1] Nabi Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam adalah seorang manusia yang diangkat Allah menjadi rasul. Rasul-rasul sebelumnya telah wafat. Ada yang wafat karena terbunuh dan ada pula yang karena sakit biasa. Karena itu Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam juga akan wafat seperti halnya rasul-rasul yang terdahulu itu. Di waktu berkecamuknya perang Uhud tersiarlah berita bahwa Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam mati terbunuh. Berita ini mengacaukan kaum muslimin, sehingga ada yang bermaksud meminta perlindungan kepada Abu Sufyan (pemimpin kaum Quraisy). Sementara itu orang-orang munafik mengatakan bahwa kalau Nabi Muhammad itu seorang Nabi tentulah dia tidak akan mati terbunuh. Maka Allah menurunkan ayat ini untuk menenteramkan hati kaum muslimin dan membantah kata-kata orang-orang munafik itu. (Sahih Bukhari bab Jihad). Abu Bakar radhiyallahu 'anhu iuga membacakan ayat ini ketika terjadi kegelisahan di kalangan para sahabat di hari wafatnya Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam untuk menenteramkan Umar Ibnul Khaththab radhiyallahu 'anhu. dan sahabat-sahabat yang tidak percaya tentang wafatnya Nabi itu. (Sahih Bukhari bab Ketakwaan Sahabat). Di dalam kisah ini terdapat dalil keutamaan Abu Bakr Ash Shiddiq radhiyallahu 'anhu.
[2] Bahkan hanya merugikan dirinya sendiri. Hal itu, karena Allah tidak butuh kepadanya dan akan tetap menegakkan agama-Nya serta menguatkan hamba-hamba-Nya yang mukmin.
[3] Yakni orang-orang yang tetap teguh pendirian.
[4] Yakni dengan qadhaa'-Nya.
[5] Tidak maju dan tidak mundur. Oleh karena itu, mengapa kalian malah mundur? Padahal mundur tidak menolak kematian dan tetapnya kalian (bersabar) pun tidak mengakhiri kehidupan. Dengan demikian, kalau seseorang ditaqdirkan akan mati, maka ia akan mati walau pun tanpa sebab dan kalau pun seseorang diancam mati atau ada usaha dari orang lain untuk membunuhnya, maka dia tidak akan mati sampai tiba ajalnya.
[6] Tidak disebutkan balasannya karena banyak dan besarnya balasan, dan bahwa balasan akan diberikan sesuai tingkat syukur seseorang; sedikit atau banyak.
[7] Dalam ayat ini terdapat dorongan kepada kaum mukmin agar mengikuti jejak generasi sebelumnya yang bersabar dan agar mereka berbuat seperti yang mereka lakukan.
[8] Yaitu melampaui batas-batas hukum yang telah ditetapkan Allah Subhaanahu wa Ta'aala. Mereka mengetahui bahwa dosa-dosa dan sikap melampaui batas merupakan penyebab kekalahan dan bahwa melepaskan diri dari dosa-dosa merupakan sebab kemenangan, maka mereka meminta kepada Allah agar dosa-dosa itu diampuni.
[9] Mereka tidak bersandar dengan kemampuan mereka, bahkan mereka bersandar dan bertawakkal kepada Allah. Mereka meminta kepada-Nya agar diberi keteguhan saat menghadapi musuh. Mereka menggabung antara sabar, tobat, istighfar dan meminta pertolongan kepada Allah, sudah pasti Allah akan menolong mereka dan menjadikan kesudahan yang baik untuk mereka di dunia dan akhirat.
[10] Pahala dunia dapat berupa kemenangan, memperoleh harta rampasan, pujian-pujian dan lain-lain.
[11] Berupa mendapatkan surga dan keridhaan Allah.
[12] Baik dalam beribadah kepada Allah maupun dalam bermu'amalah kepada sesama manusia. Termasuk ihsan pula adalah melakukan hal yang serupa dengan generasi sebelum mereka dalam berjihad melawan musuh.
[13] Hal itu, karena tidak ada yang mereka inginkan terhadap kita selain keburukan.
[14] Dalam ayat ini terdapat berita gembira bagi kaum mukmin bawa Allah-lah Pelindung mereka, Dia yang mengatur urusan mereka dengan kelembutan-Nya dan memelihara mereka dari segala keburukan. Di dalamnya juga terdapat dorongan agar mereka menjadikan Allah sebagai wali dan Penolong mereka satu-satunya. Pada ayat selanjutnya disebutkan contoh perlindungan-Nya kepada kaum mukmin, yaitu dengan menimpakan rasa takut dalam hati musuh-musuh mereka.
[15] Oleh karena itu, sepulangnya mereka dari perang Uhud dan berkeinginan untuk kembali menghabiskan kaum muslimin, maka mereka tidak jadi karena takut.

Tafsir Ali Imran Ayat 133-143


Ayat 133-136: Menerangkan tentang sifat orang-orang yang bertakwa, segera bertobat, menyesali dosa dan bahwa balasan untuknya adalah diampuni dosa dan masuk surga
وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالأرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ (١٣٣) الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (١٣٤) وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ (١٣٥)أُولَئِكَ جَزَاؤُهُمْ مَغْفِرَةٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَجَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ (١٣٦
Terjemah Surat Ali Imran Ayat 133-136
133. Bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa,
134. (yaitu) orang-orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit[1], dan orang-orang yang menahan amarahnya[2] dan mema'afkan (kesalahan) orang lain[3]. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan[4].
135. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri[5], segera mengingat Allah[6], lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya[7], dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa-dosanya selain Allah? Mereka pun tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui.

136. Balasan bagi mereka ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Itulah sebaik-baik pahala bagi orang-orang yang beramal.
Ayat 137-141: Sunnatullah ‘Azza wa Jalla dalam memberikan cobaan, penghapusan dosa dan bergulirnya hari dan peristiwa
قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِكُمْ سُنَنٌ فَسِيرُوا فِي الأرْضِ فَانْظُروا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ (١٣٧) هَذَا بَيَانٌ لِلنَّاسِ وَهُدًى وَمَوْعِظَةٌ لِلْمُتَّقِينَ     (١٣٨) وَلا تَهِنُوا وَلا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الأعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ (١٣٩) إِنْ يَمْسَسْكُمْ قَرْحٌ فَقَدْ مَسَّ الْقَوْمَ قَرْحٌ مِثْلُهُ وَتِلْكَ الأيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَيَتَّخِذَ مِنْكُمْ شُهَدَاءَ وَاللَّهُ لا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ (١٤٠) وَلِيُمَحِّصَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَيَمْحَقَ الْكَافِرِينَ (١٤١
Terjemah Surat Ali Imran Ayat 137-141
137.[8] Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah Allah[9]; karena itu berjalanlah kamu ke (segenap penjuru) bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang yang mendustakan (rasul-rasul).
138. (Al Quran) ini[10] adalah keterangan yang jelas untuk semua manusia, dan menjadi petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.
139.[11] Janganlah kamu merasa lemah[12], dan jangan (pula) bersedih hati[13], sebab kamu paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.
140. Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka mereka pun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa[14]. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran)[15], dan agar Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir)[16] dan agar sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada'[17]. Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim[18],
141. Demikian juga agar Allah membersihkan orang-orang yang beriman (dari dosa mereka)[19] dan membinasakan orang-orang yang kafir[20].
Ayat 142-143: Teguran Allah Subhaanahu wa Ta'aala kepada sebagian sahabat yang hadir perang Uhud
أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنْكُمْ وَيَعْلَمَ الصَّابِرِينَ (١٤٢) وَلَقَدْ كُنْتُمْ تَمَنَّوْنَ الْمَوْتَ مِنْ قَبْلِ أَنْ تَلْقَوْهُ فَقَدْ رَأَيْتُمُوهُ وَأَنْتُمْ تَنْظُرُونَ (١٤٣
Terjemah Surat Ali Imran Ayat 142-143
142. Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga[21], padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad[22] di antara kamu dan belum nyata orang-orang yang sabar.
143. Sesungguhnya kamu mengharapkan mati (syahid) sebelum kamu menghadapinya[23]; maka (sekarang) kamu telah melihatnya dan kamu menyaksikannya[24].

[1] Yakni ketika mereka lapang, mereka banyak berinfak, namun ketika susah mereka tidak meremehkan perkara ma'ruf meskipun kecil.
[2] Padahal mampu melampiaskan amarahnya dan bersabar dari membalas orang yang berbuat buruk kepada mereka.
[3] Dengan tidak membalas.
[4] Untuk dapat memahami ayat ini kami bawakan kisah berikut –terlepas apakah kisah ini sahih atau tidak- hanya saja kita dapat mengambilnya sebagai pelajaran. Kisah ini disebutkan dalam kitab Minhajul Muslim ketika menerangkan tentang ihsan:
Dahulu seorang majikan pernah dibuat marah oleh budaknya, majikannya pun marah dan hendak menghukumnya, maka budaknya membacakan ayat, “Wal kaazhimiinal ghaizh” (Dan orang-orang yang menahan marahnya), maka majikannya berkata, “Ya, saya tahan marah saya.” Budaknya membacakan ayat lagi, “Wal ‘aafiina ‘anin naas” (serta memaafkan orang lain), maka majikannya berkata, “Ya, kamu saya maafkan.” Budaknya lalu membacakan lagi, “Wallahu yuhibbul muhsininiin” (Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat ihsan), maka majikannya berkata, “Sudah pergi sana, kamu merdeka karena Allah Ta’ala.”
Inilah contoh menahan marah, memaafkan orang lain dan berbuat ihsan.
Ihsan terbagi menjadi dua:
  1. Ihsan dalam beribadah.
Ihsan dalam beribadah ditafsirkan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dalam sabdanya, yaitu, "Kamu beribadah kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya. Jika kamu tidak merasa melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu." (HR. Muslim)
2. Ihsan kepada makhluk
Sedangkan ihsan kepada makhluk adalah memberikan manfaat baik yang bersifat agama maupun dunia kepada makhluk serta menghindarkan keburukan dari mereka. Termasuk ke dalamnya beramr ma'ruf dan bernahi munkar, mengajarkan orang yang tidak tahu, menasehati orang yang lalai, memberikan sikap nasihat (tulus) kepada manusia secara umum maupun khusus, berusaha menyatukan mereka, memberikan sedekah dan nafkah yang wajib maupun sunat sesuai keadaan mereka dan sifatnya, memberikan kedermawanan, menghindarkan gangguan dan siap memikul gangguan yang menyakitkan.
[5] Yang dimaksud perbuatan keji (faahisyah) ialah dosa besar yang akibatnya tidak hanya menimpa diri sendiri tetapi juga orang lain, seperti zina, riba. Menzalimi diri sendiri ialah melakukan dosa yang akibatnya hanya menimpa diri sendiri baik besar atau kecil. Adapula yang mengartikan perbuatan keji di sini dengan dosa besar, sedangkan maksud "menzalimi diri sendiri" adalah dosa kecil.
[6] Yakni mengingat siksa-Nya dan mengingat janji-Nya yang diberikan kepada orang-orang yang bertakwa.
[7] Mereka segera beristighfar dan bertobat, berhenti melakukannya dan merasa menyesal.
[8] Ayat ini turun setelah perang Uhud untuk menghibur kaum mukmin. Di dalamnya terdapat perintah bagi kaum mukmin agar memperhatikan kesudahan yang dialami oleh orang-orang yang mendustakan rasul agar mereka tidak bersedih karena kekalahan mereka di perang Uhud dan bahwa kesudahan yang baik (seperti kemenangan) akan didapatkan oleh orang-orang yang bertakwa.
[9] Yang dimaksud dengan sunnah Allah di sini ialah hukuman-hukuman Allah yang berupa malapetaka, bencana yang ditimpakan kepada orang-orang yang mendustakan rasul.
[10] Ada yang menafsirkan kata "ini" di ayat ini dengan kebinasaan yang dialami oleh orang-orang yang mendustakan para rasul. Maksudnya, bahwa binasanya orang-orang yang menentang rasul itu terdapat dalil yang jelas siapa yang benar dan siapa yang salah, siapa yang beruntung dan siapa yang sengsara sekaligus sebagai penegakkan hujjah bagi manusia. Demikian juga di dalamnya terdapat petunjuk dan pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa, di mana semua itu menjadikan mereka menempuh jalan yang lurus dan menghindari jalan yang sesat setelah menyaksikan perstiwa yang dialami oleh mereka yang menentang rasul.
[11] Di ayat ini, Allah membangkitkan semangat kaum mukmin.
[12] Dalam berjihad melawan orang-orang kafir.
[13] Karena kekalahanmu di perang Uhud. Hal itu, padahal merasa lemah dan bersedih akan menambah musibah bagi kamu.
[14] Lihat pula surat An Nisaa': 104.
[15] Di antara hikmahnya pula adalah karena dunia ini diberikan Allah untuk orang mukmin dan orang kafir, orang baik dan orang jahat. Berbeda dengan di akhirat, maka kebahagiaan hanya diperuntukkan kepada orang-orang mukmin.
[16] Ini pun termasuk hikmah Allah menguji hamba-hamba-Nya dengan kekalahan, yakni agar diketahui siapa yang mukmin dan siapa yang munafik. Hal itu, karena jika kemenangan selalu didapatkan oleh kaum mukmin, tentu saja akan masuk Islam orang-orang yang sebenarnya tidak menginginkannya. Berbeda, jika terkadang menang dan terkadang kalah, maka akan diketahui dengan jelas orang yang mukmin, orang yang memang menginginkan Islam baik pada saat sempit maupun lapang, saat susah maupun mudah, saat senang maupun tidak.
[17] Syuhada' di sini ialah orang-orang Islam yang gugur di dalam peperangan untuk menegakkan agama Allah. Sebagian ahli tafsir ada yang mengartikannya dengan menjadi saksi atas manusia sebagaimana tersebut dalam ayat 143 surat Al Baqarah. Mati sebagai syuhada' merupakan derajat yang sangat tinggi di sisi Allah, dan dengan adanya kekalahan itu orang-orang akan memperoleh derajat yang tinggi tersebut serta kenikmatan yang kekal. Shadaqallah (Maha Benar Allah).
[18] Nampaknya kata-kata ini tertuju kepada kaum munafik sebagai celaan bagi mereka dan bahwa mereka dibenci Allah, oleh karenanya Allah menjadikan mereka mundur. Allah berfirman:
"Dan jika mereka mau berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu, tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, Maka Allah melemahkan keinginan mereka. dan dikatakan kepada mereka: "Tinggallah kamu bersama orang-orang yang tinggal itu." (Terj. At Taubah: 46)
[19] Ayat ini menunjukkan bahwa gugur sebagai syahid dan berperang di jalan Allah merupakan sebab terhapusnya dosa.
[20] Yakni sebagai sebab dibinasakan orang-orang kafir. Kalau pun mereka menang, lalu bertambah kekafirannya, maka mereka berhak mendapatkan hukuman yang disegerakan karena sayangnya Allah kepada kaum mukmin.
[21] Yakni janganlah kamu mengira bawa seseorang masuk surga bisa dilakukan dengan santai tanpa ada rasa masyaqqah (kesulitan) sama sekali dan tanpa memikul beban-beban berat di jalan Allah, karena sesungguhnya surga yang penuh kenikmatan adalah cita-cita yang paling tinggi. Semakin tinggi sesuatu yang diharapkan, maka semakin berat pula sarana untuk mencapai ke arah sana. Tidak mungkin kenikmatan yang begitu besar diraih dengan santai dan berleha-leha. Namun demikian, beban-beban berat itu akan menjadi ringan di sisi orang-orang yang memiliki bashirah (mata hati) dan beban-beban itu menjadi nikmat. Yang demikian merupakan karunia Allah yang diberikan kepada siapa yang dikehendaki-Nya.
[22] Jihad dapat berarti: a. Berperang untuk menegakkan Islam dan melindungi orang-orang Islam; b. Memerangi hawa nafsu; c. Mendermakan harta benda untuk kebaikan Islam dan umat Islam; d. Memberantas kejahatan dan menegakkan kebenaran.
[23] Maksudnya: sebelum perang Uhud banyak para sahabat terutama yang tidak ikut perang Badar menganjurkan agar Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam keluar dari kota Madinah memerangi orang-orang kafir.
[24] Yakni mengapa kalian kemudian tidak bersabar ketika menghadapinya. Dalam ayat ini terdapat dalil bahwa tidak makruh menginginkan mati syahid, hal ini diketahui karena Allah mengakui sikap mereka dan tidak mengingkarinya, yang Allah ingkari hanyalah ketika mereka tidak mengamalkan konsekwensinya, wallahu a'lam.

Tafsir Ali Imran Ayat 121-132


Ayat 121-122: Keluarnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan kaum mukmin bersama Beliau ke perang Uhud
وَإِذْ غَدَوْتَ مِنْ أَهْلِكَ تُبَوِّئُ الْمُؤْمِنِينَ مَقَاعِدَ لِلْقِتَالِ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ  (١٢١) إِذْ هَمَّتْ طَائِفَتَانِ مِنْكُمْ أَنْ تَفْشَلا وَاللَّهُ وَلِيُّهُمَا وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ (١٢٢
Terjemah Surat Ali Imran Ayat 121-132
121.[1] Dan (ingatlah), ketika engkau (Muhammad) berangkat meninggalkan keluargamu untuk mengatur orang-orang beriman[2] pada pos-pos pertempuran[3]. Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.
122.[4] Ketika dua golongan dari pihak kamu[5] ingin (mundur) karena takut, padahal Allah adalah penolong mereka[6]. Karena itu, hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal[7].
Ayat 123-129: Renungan dan nasihat dalam perang Uhud dan Badar, dan bahwa sabar dan tawakkal kepada Allah adalah pangkal kemenangan

وَلَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ بِبَدْرٍ وَأَنْتُمْ أَذِلَّةٌ فَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ (١٢٣)إِذْ تَقُولُ لِلْمُؤْمِنِينَ أَلَنْ يَكْفِيَكُمْ أَنْ يُمِدَّكُمْ رَبُّكُمْ بِثَلاثَةِ آلافٍ مِنَ الْمَلائِكَةِ مُنْزَلِينَ (١٢٤) بَلَى إِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا وَيَأْتُوكُمْ مِنْ فَوْرِهِمْ هَذَا يُمْدِدْكُمْ رَبُّكُمْ بِخَمْسَةِ آلافٍ مِنَ الْمَلائِكَةِ مُسَوِّمِينَ (١٢٥) وَمَا جَعَلَهُ اللَّهُ إِلا بُشْرَى لَكُمْ وَلِتَطْمَئِنَّ قُلُوبُكُمْ بِهِ وَمَا النَّصْرُ إِلا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ (١٢٦) لِيَقْطَعَ طَرَفًا مِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَوْ يَكْبِتَهُمْ فَيَنْقَلِبُوا خَائِبِينَ (١٢٧) لَيْسَ لَكَ مِنَ الأمْرِ شَيْءٌ أَوْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ أَوْ يُعَذِّبَهُمْ فَإِنَّهُمْ ظَالِمُونَ (١٢٨) وَلِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ يَغْفِرُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ (١٢٩
Terjemah Surat Ali Imran Ayat 123-129
123.[8] Dan sungguh, Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar[9], padahal kamu dalam keadaan lemah[10]. Karena itu bertakwalah kepada Allah, agar kamu mensyukuri-Nya[11].
124. (ingatlah), ketika kamu (Muhammad) mengatakan kepada orang-orang mukmin[12], "Apakah tidak cukup bagi kamu Allah membantu kamu dengan tiga ribu malaikat yang diturunkan (dari langit)?"
125. "Ya" (cukup)[13], jika kamu bersabar[14] dan bertakwa ketika mereka datang menyerang kamu dengan tiba-tiba, niscaya Allah menolongmu dengan lima ribu malaikat yang memakai tanda.
126. Dan Allah tidak menjadikannya (pemberian bala bantuan itu) melainkan sebagai kabar gembira bagi (kemenangan)mu, dan agar hatimu tenang karenanya[15]. Dan tidak ada kemenangan itu, selain dari Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana[16].
127. (Allah menolong kamu dalam perang Badar dan memberi bantuan) adalah untuk membinasakan segolongan orang kafir[17], atau untuk menjadikan mereka hina[18], sehingga mereka kembali tanpa memperoleh apa-apa[19].
128.[20] Itu bukan menjadi urusanmu (Muhammad)[21], apakah Allah menerima tobat mereka, atau mengazabnya, karena sesungguhnya mereka orang-orang zalim[22].
129.[23] Dan milik Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dia mengampuni siapa yang Dia kehendaki, dan mengazab siapa yang Dia kehendaki. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Ayat 130-132: Bertahap dalam penetapan syariat haramnya riba, ajakan Allah Subhaanahu wa Ta'aala kepada hamba-hamba-Nya untuk bertobat serta bertakwa
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَأْكُلُوا الرِّبَا أَضْعَافًا مُضَاعَفَةً وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ (١٣٠) وَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِي أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِينَ (١٣١) وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ (١٣٢
Terjemah Surat Ali Imran Ayat 130-132
130.[24] Wahai orang-orang yang beriman![25] Janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda[26] dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.
131. Peliharalah dirimu dari api neraka[27], yang disediakan untuk orang-orang kafir.
132. Dan taatlah kepada Allah dan rasul, agar kamu diberi rahmat.

[1] Hikmah disebutkan kisah perang Uhud dan perang Badar adalah karena Allah Subhaanahu wa Ta'aala telah menjanjikan kemenangan kepada kaum mukminin jika mereka bersabar dan bertakwa serta akan menghindarkan tipu daya musuh. Hal ini adalah janji yang umum, di mana janji tersebut tidak akan meleset jika kaum mukmin mengerjakan syaratnya. Allah Subhaanahu wa Ta'aala memberikan contoh dengan perang Badar, saat mereka bersabar dan bertakwa, Allah memberikan kemenangan, namun ketika mereka kurang memperhatikan kesabaran dan ketakwaan, mereka pun kalah. Di antara hikmah disebutkan bersamaan kisah perang Badar dan Uhud adalah bahwa Allah menyukai hamba-Nya apabila mereka tertimpa musibah yang tidak mereka sukai segera mengingat hal yang mereka cintai, sehingga musibah menjadi ringan dan membuat mereka bersyukur kepada Allah atas nikmat yang besar itu.
[2] Hal ini menunjukkan kecemerlangan pendapat Beliau dan menunjukkan keberaniannya, di mana Beliau yang langsung mengatur posisi kaum mukmin dalam peperangan.
[3] Peristiwa ini terjadi pada perang Uhud yang menurut ahli sejarah terjadi pada tahun ke 3 H. Pada waktu itu, Beliau keluar membawa 1.000 orang pasukan atau kurang lima puluh (950 pasukan), sedangkan kaum musyrikin berjumlah 3.000 orang. Tetapi baru saja Beliau berangkat, keluarlah dari barisan segolongan kaum munafik yang dipimpin Abdullah bin Ubay, jumlahnya 300 orang. Laskar yang masih setia kepada Nabi Muhammad shallalllahu 'alaihi wa sallam terus berangkat bersama Beliau shallalllahu 'alaihi wa sallam, jumlahnya 700 orang. Beliau menempati kaki gunung, dan menjadikan gunung Uhud di belakang Beliau, saat itu Beliau mengatur barisan dan menempatkan pasukan pemanah di perbukitan yang dipimpin Abdullah bin Jubair dan berpesan kepada mereka agar tidak meninggalkan posisinya, baik Beliau menang atau kalah. Awalnya kaum muslimin menguasai jalan pertempuran itu, akan tetapi karena ada di antara mereka yang tidak disiplin, maka berubahlah keadaannya; regu pemanah banyak yang turun dari bukit meninggalkan posisinya, karena melihat ghanimah sudah di depan mata. Ketika regu pemanah sudah turun, pasukan musyrikin kembali berputar dari arah lain dipimpin oleh Khalid bin Walid yang ketika itu masih kafir, akibatnya kaum muslimin terkepung dari depan maupun belakang, pasukan kaum muslimin pun terpecah belah. Di akhirnya, kaum muslimin berkumpul kembali ke hadapan Nabi Muhammad shallalllahu 'alaihi wa sallam setelah terpecah belah, lalu Beliau menarik pasukan ke celah bukit.
[4] Imam Bukhari meriwayatkan dari Jabir, ia berkata: Ayat ini, "Idz hammat thaa'ifataani…dst." turun berkenaan dengan kami Bani Salamah dan Bani Haritsah, saya ingin ayat tersebut tidak turun, tetapi Allah berfirman, "Padahal Allah penolong mereka."
Maksud kata-kata Jabir, "Saya ingin ayat tersebut tidak turun, tetapi Allah berfirman, "Padahal Allah penolong mereka" adalah bahwa zhahirnya ayat tersebut merendahkan mereka, tetapi di akhir ayat sebenarnya terdapat kemuliaan bagi mereka.
[5] Yakni: Bani Salamah dari suku Khazraj dan Bani Haritsah dari suku Aus, keduanya dari barisan kaum muslimin. Kedua kabilah itu ingin mundur melihat Abdullah bin Ubay dan kawan-kawannya mundur, lalu Allah meneguhkan pendirian mereka sehingga tidak jadi mundur.
[6] Dia memberikan taufiq hamba-hamba-Nya kepada hal yang terbaik bagi mereka dan melindungi mereka dari hal yang membahayakan mereka. Di antaranya adalah dengan meneguhkan pendirian mereka, ketika mereka hampir mundur dan meninggalkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam karena iman yang ada dalam hati mereka.
[7] Terlebih dalam keadaan mencekam atau dalam peperangan, mereka butuh bertawakkal, meminta pertolongan dan bantuan Kepada Tuhannya, serta berlepas dari kemampuan mereka dan bersandar kepada kekuatan Allah Azza wa Jalla. Dengan itulah, mereka bisa menang dan dapat mengatasi berbagai cobaan dan ujian.
[8] Ayat ini turun ketika kaum muslimin mengalami kekalahan dalam perang Uhud untuk mengingatkan mereka nikmat-Nya di perang Badar.
[9] Perang Badar terjadi pada tahun ke-2 hijriah. Ketika itu, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam keluar bersama tiga ratus orang pasukan dengan maksud mengejar kafilah Quraisy yang pulang dari Syam. Namun berita ini didengar oleh kaum musyrik, maka mereka segera bersiap-siap untuk mengadakan perlawanan demi menyelamatkan kafilah mereka. Saat itu, kaum kafir Quraisy keluar dengan pasukan berjumlah 1.000 orang lengkap dengan peralatan perang, senjata dan kuda yang banyak. Maka bertempurlah kaum muslim dengan kaum musyrik di mata air yang bernama "Badar" yang terletak antara Makkah dan Madinah. Saat itu, Allah memenangkan kaum muslimin, tujuh puluh orang kaum musyrik terbunuh dan tujuh puluh lagi tertawan.
[10] Keadaan kaum muslimin lemah karena jumlah mereka sedikit dan perlengkapan mereka kurang mencukupi.
[11] Ayat ini menunjukkan bahwa barang siapa yang tidak bertakwa kepada Allah, maka sama saja ia tidak bersyukur kepada Tuhannya.
[12] Untuk menenteramkan hati mereka.
[13] Dalam surat Al Anfal disebutkan, bahwa Allah memberikan bantuan dengan 1.000 malaikat. Bantuan dengan 1.000 malaikat adalah bantuan yang pertama, kemudian bertambah menjadi 3.000 malaikat.
[14] Saat bertempur dengan musuh.
[15] Sehingga kamu tidak khawatir dengan jumlah musuh yang banyak dan sedikitnya jumlah kamu.
[16] Yakni yang menempatkan sesuatu pada tempatnya dan bertindak tepat.
Allah memiliki hikmah mengapa orang-orang kafir terkadang memperoleh kemenangan. Allah berfirman:
"Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada'. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim," (Terj. Ali Imran: 140)
"Demikianlah, apabila Allah menghendaki niscaya Allah akan membinasakan mereka tetapi Allah hendak menguji sebagian kamu dengan sebagian yang lain. Dan orang-orang yang syahid pada jalan Allah, maka Allah tidak akan menyia-nyiakan amal mereka." (Terj. Muhammad: 4)
[17] Dengan dibunuh atau ditawan.
[18] Yakni kalah.
[19] Syaikh As Sa'diy berkata, "Jika anda memperhatikan kenyataan, niscaya anda akan melihat bahwa pertolongan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang mukmin antara dua macam ini; tidak lepas daripadanya, yaitu memberikan kemenangan atau membuat kecewa usaha mereka (orang-orang kafir)."
[20] Ayat ini turun ketika perang Uhud Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam terluka, gigi Beliau pecah dan wajah Beliau terluka, maka Beliau berkata, "Bagaimana suatu kaum yang melukai wajah nabi mereka dan memecahkan giginya akan beruntung?" (sebagaimana dalam Shahih Muslim). Beliau kemudian mendoakan kebinasaan kepada tokoh-tokoh orang musyrik seperti Abu Sufyan bin Harb, Shafwan bin Umayyah, Suhail bin 'Amr dan Harits bin Hisyam, maka turunlah ayat ini yang melarang Beliau mendoakan laknat kepada mereka dan dijauhkan dari rahmat Allah.
Menurut hadits Anas yang diriwayatkan oleh Muslim, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mendoakan keburukan selama tiga puluh hari di waktu Subuh kepada mereka yang membunuh beberapa orang di Bi'ruma'unah. Beliau mendoakan keburukan kepada suku Ri'il, Dzakwan, Lihyan, dan 'Ushayyah yang bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya. Anas berkata, "Allah Azza wa Jalla menurunkan ayat yang kami baca berkenaan mereka yang membunuh beberapa orang di Bi'ruma'unah, kemudian dimansukh setelahnya. Mereka (yang mati syahid) menyampaikan, "Sampaikanlah kepada kaum kami, bahwa kami telah bertemu Tuhan kami, Dia ridha kepada kami dan kami pun ridha kepada-Nya."
Ayat di atas bisa turun berkenaan semua itu karena mungkin turunnya tidak segera, dan antara masing-masing kisah tidak berjauhan terjadinya sehingga mencakup semua itu.
[21] Kewajibanmu hanyalah menyampaikan, membimbing manusia dan memberitahukan hal yang bermaslahat bagi mereka. Adapun yang demikian adalah urusan Allah, oleh karena itu bersabarlah. Jika hikmah (kebijaksanaan) Allah dan rahmat-Nya menghendaki, bisa saja Dia menerima tobat mereka dan menjadikan mereka masuk Islam, dan jika hikmah-Nya menghendaki, bisa saja membiarkan mereka di atas kekafiran sehingga mereka akan mendapat siksa.
[22] Hal ini menunjukkan keadilan Allah dan kebijaksanaan-Nya, di mana Dia meletakkan hukuman pada tempatnya, Dia tidak menzalimi hamba-Nya, tetapi hamba itulah yang menzalimi dirinya sendiri.
[23] Setelah disebutkan di ayat sebelumnya bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tidak memiliki hak campur tangan dalam urusan mereka, Allah menetapkan bahwa yang demikian adalah urusan Allah, milik-Nya dan ciptaan-Nya apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Jika demikian, maka makhluk-Nya itu bisa diampuni-Nya dan bisa diberi-Nya azab. Dia mengampuni siapa yang Dia kehendaki dengan memberinya hidayah Islam sehingga dosa syirknya diampuni dan mengaruniakan kepadanya meninggalkan maksiat sehingga dosanya diampuni. Dia juga mengazab siapa yang Dia kehendaki, dengan menyerahkan urusannya kepada dirinya yang jahil (bodoh) dan zalim sehingga mengerjakan perbuatan buruk dan akan memperoleh azab-Nya. Di akhir ayat, Allah menutup dengan dua nama-Nya yang mulia "Al Ghafur & Ar Rahim" yang menunjukkan luasnya rahmat, ampunan dan ihsan (kebaikan)-Nya. Diakhirinya dengan dua nama itu menunjukkan bahwa rahmat-Nya mengalahkan kemurkaan-Nya dan ampunan-Nya mengalahkan siksa-Nya.
[24] Menurut Syaikh As Sa'diy, bahwa hikhmah –dan Allah yang lebih mengetahui- dimasukkan ayat ini di sela-sela kisah perang Uhud adalah karena sebelumnya Allah telah menjanjikan, jika mereka bersabar dan bertakwa, maka Dia akan memenangkan mereka dan mengalahkan musuh mereka, dan nampaknya jiwa menjadi rindu untuk mengetahui lebih dalam tentang perkara-perkara takwa yang menjadi sebab kemenangan, keberuntungan dan kebahagiaan, maka disebutkanlah lafaz takwa tiga kali, yaitu di ayat 130, 131dan 133.
[25] Ditujukan kepada orang-orang yang beriman, karena hanya orang-orang yang beriman yang dapat melakukan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, di mana iman itu adalah pembenaran yang sempurna terhadap sesuatu yang wajib dibenarkan dan menghendaki adanya amal dari anggota badan. Hal ini menunjukkan bahwa iman, tidak hanya ucapan saja, bahkan disertai amal. Oleh karena itu, para ulama mengatakan bahwa "Al Iman qaul wa 'amal" (Iman adalah ucapan yang didukung oleh hati dan adanya amal).
[26] Menurut sebagian besar ulama adalah bahwa riba itu selamanya haram, walaupun tidak berlipat ganda. Riba yang dimaksud dalam ayat ini adalah Riba nasiah yang umum terjadi dalam masyarakat Arab zaman jahiliyah, yaitu ketika orang yang berhutang sudah jatuh tempo harus membayar, namun ia belum mampu, orang yang memberi pinjaman berkata, "Kamu mau membayar hutangmu atau saya tambah lagi waktunya namun hutangmu juga bertambah".
[27] Yakni dengan meninggalkan segala perbuatan yang menyebabkan kita masuk neraka berupa kekufuran dan kemaksiatan.
- See more at: http://www.tafsir.web.id/2013/01/tafsir-ali-imran-ayat-121-132_10.html#sthash.JKwlGPwA.dpuf

Tafsir Ali Imran Ayat 110-120


Ayat 110-115: Keutamaan umat Islam di atas umat yang lain, akhir keadaan orang-orang kafir adalah kehinaan dan penyesalan serta menjelaskan keadaan Ahli Kitab
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ (١١٠) لَنْ يَضُرُّوكُمْ إِلا أَذًى وَإِنْ يُقَاتِلُوكُمْ يُوَلُّوكُمُ الأدْبَارَ ثُمَّ لا يُنْصَرُونَ (١١١) ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ أَيْنَ مَا ثُقِفُوا إِلا بِحَبْلٍ مِنَ اللَّهِ وَحَبْلٍ مِنَ النَّاسِ وَبَاءُوا بِغَضَبٍ مِنَ اللَّهِ وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الْمَسْكَنَةُ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَانُوا يَكْفُرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَيَقْتُلُونَ الأنْبِيَاءَ بِغَيْرِ حَقٍّ ذَلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُونَ (١١٢)لَيْسُوا سَوَاءً مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ أُمَّةٌ قَائِمَةٌ يَتْلُونَ آيَاتِ اللَّهِ آنَاءَ اللَّيْلِ وَهُمْ يَسْجُدُونَ (١١٣) يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَأُولَئِكَ مِنَ الصَّالِحِينَ (١١٤) وَمَا يَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ فَلَنْ يُكْفَرُوهُ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِالْمُتَّقِينَ (١١٥
Terjemah Surat Ali Imran Ayat 110-115
110. Kamu adalah umat yang terbaik[1] yang ditampilkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh berbuat yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman[2], tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.
111. Mereka[3] tidak akan membahayakan kamu, kecuali gangguan-gangguan kecil saja[4], dan jika mereka memerangi kamu, niscaya mereka mundur berbalik ke belakang (kalah). Selanjutnya mereka tidak mendapat pertolongan.
112. Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang pada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia[5]. Mereka mendapat murka dari Allah dan selalu diliputi kesengsaraan. Yang demikian itu[6] karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar[7]. Yang demikian itu[8] disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas[9].


113.[10] Mereka itu tidak (seluruhnya) sama. Di antara Ahli Kitab ada golongan yang jujur[11], mereka membaca ayat-ayat Allah pada malam hari, sedang mereka juga bersujud (shalat)[12].
114. Mereka beriman kepada Allah dan hari akhir[13], menyuruh berbuat yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar dan bersegera (mengerjakan) berbagai kebajikan[14]. Mereka itu[15] termasuk orang-orang yang saleh.
115. Dan kebajikan apa pun yang mereka kerjakan[16], maka sekali-kali tidak akan diingkari (pahala)nya. Allah Maha Mengetahui orang-orang yang bertakwa.
Ayat 116-117: Hukuman bagi orang-orang kafir dan hasil amal mereka di dunia dan akhirat
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَنْ تُغْنِيَ عَنْهُمْ أَمْوَالُهُمْ وَلا أَوْلادُهُمْ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا وَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ (١١٦) مَثَلُ مَا يُنْفِقُونَ فِي هَذِهِ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا كَمَثَلِ رِيحٍ فِيهَا صِرٌّ أَصَابَتْ حَرْثَ قَوْمٍ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ فَأَهْلَكَتْهُ وَمَا ظَلَمَهُمُ اللَّهُ وَلَكِنْ أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ (١١٧
Terjemah Surat Ali Imran Ayat 116-117
116. Sesungguhnya orang-orang yang kafir, baik harta maupun anak-anak mereka[17], sedikit pun tidak dapat menolak azab Allah. Mereka itu penghuni neraka, (dan) mereka kekal di dalamnya.
117. Perumpamaan harta yang mereka[18] infakkan[19] di dalam kehidupan dunia ini, ibarat angin yang mengandung hawa sangat dingin, yang menimpa tanaman milik suatu kaum yang menzalimi diri sendiri[20], lalu angin itu merusaknya[21]. Allah tidak menzalimi mereka[22], tetapi merekalah yang menzalimi diri sendiri[23].
Ayat 118-120: Peringatan untuk umat Islam agar tidak berwala’ dan mengambil teman kepercayaan kepada orang-orang kafir dan orang-orang munafik
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِنْ دُونِكُمْ لا يَأْلُونَكُمْ خَبَالا وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الآيَاتِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُونَ (١١٨) هَا أَنْتُمْ أُولاءِ تُحِبُّونَهُمْ وَلا يُحِبُّونَكُمْ وَتُؤْمِنُونَ بِالْكِتَابِ كُلِّهِ وَإِذَا لَقُوكُمْ قَالُوا آمَنَّا وَإِذَا خَلَوْا عَضُّوا عَلَيْكُمُ الأنَامِلَ مِنَ الْغَيْظِ قُلْ مُوتُوا بِغَيْظِكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ (١١٩) إِنْ تَمْسَسْكُمْ حَسَنَةٌ تَسُؤْهُمْ وَإِنْ تُصِبْكُمْ سَيِّئَةٌ يَفْرَحُوا بِهَا وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا إِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ (١٢٠
Terjemah Surat Ali Imran Ayat 118-120
118. Wahai orang-orang yang beriman! janganlah kamu menjadikan orang-orang yang di luar kalanganmu[24] sebagai teman kepercayaanmu[25], (karena) mereka tidak henti-hentinya menyusahkan kamu. Mereka mengharapkan kehancuranmu. Sungguh, telah nyata kebencian dari mulut mereka[26], dan apa yang disembunyikan dalam hati[27] mereka lebih besar lagi. Sungguh, telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami)[28], jika kamu mengerti.
119. Beginilah kamu! kamu menyukai mereka[29], padahal mereka tidak menyukaimu[30], dan kamu beriman kepada semua kitab[31]. Apabila mereka berjumpa dengan kamu, mereka berkata, "Kami beriman", dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari karena marah dan benci kepadamu[32]. Katakanlah, "Matilah kamu karena kemarahanmu itu!". Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala isi hati[33].
120. Jika kamu memperoleh kebaikan[34], niscaya mereka bersedih hati, tetapi jika kamu tertimpa bencana[35], mereka bergembira karenanya[36]. Jika kamu bersabar dan bertakwa[37], tipu daya mereka tidak akan mennyusahkan kamu sedikit pun. Sesungguhnya Allah Maha Meliputi segala apa yang mereka kerjakan.

[1] Mereka dianggap umat terbaik, karena mereka menyempurnakan diri mereka dengan iman yang menghendaki untuk melaksanakan segala perintah Allah, dan karena mereka menyempurnakan pula orang lain dengan menyuruh berbuat ma'ruf dan mencegah yang munkar, atau dengan kata lain mengajak manusia kepada Allah, berjihad dan mengerahkan kemampuan untuk mengembalikan mereka dari kesesatan dan kemaksiatan. Ayat ini merupakan dalil keutamaan umat Nabi Muhammad disbanding umat-umat yang lain. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّكُمْ تُتِمُّوْنَ سَبْعِيْنَ أُمَّةً أَنْتُمْ خَيْرُهَا وَ أَكْرَمُهَا عَلَى اللهِ
"Sesungguhnya kalian yang menyempurnakan menjadi tujuh puluh umat. Kalianlah umat yang terbaik dan paling mulia di sisi Allah." (HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Hakim, dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami' no. 2301).
[2] Dalam ayat ini terdapat seruan halus dari Allah kepada Ahli Kitab untuk mengajak mereka beriman (masuk Islam), namun sayang kebanyakan mereka menolak. Bahkan lebih dari itu, mereka pun memusuhi orang-orang yang beriman dengan berbagai bentuk permusuhan, tetapi semua itu tidaklah membahayakan kaum mukmin selain gangguan kecil saja.
[3] Maksudnya: orang-orang Yahudi.
[4] Maksudnya: sebatas gangguan di lisan saja, seperti mecaci, mengancam dsb.
[5] Berpegang dengan "Tali Allah" maksudnya perlindungan yang ditetapkan Allah dalam Al Quran, yaitu akad dzimmah yang menghendaki mereka membayar jizyah (pajak) kepada pemerintah Islam dan mau mengikuti hukum-hukum agama. Sedangkan "tali perjanjian dengan manusia" yakni kemananan dari mereka, misalnya dengan adanya hudnah (genjatan senjata), mengadakan perjanjian (mu'ahad), maupun sebagai tawanan yang diamankan oleh seorang kaum muslimin meskipun wanita maupun budak –budak pun boleh mengamankan menurut sebagian ulama-.
[6] Yakni: ditimpa kehinaan, kerendahan, dan kemurkaan dari Allah.
[7] Mereka membalas kebaikan para nabi dengan keburukan, bagai air susu dibalas dengan air tuba.
[8] Yakni: kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi.
[9] Dari yang halal beralih kepada yang haram.
[10] Imam Ahmad meriwayatkan dari Ibnu Mas'ud ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah menunda shalat Isya, lalu keluar ke masjid, ternyata para sahabat sedang menunggu shalat, maka Beliau bersabda, "Adapun, tidak ada seorang pun penganut agama ini yang mengingat Allah di waktu ini selain kamu." Maka Allah menurunkan beberapa ayat", yakni dari ayat 113 s/d 115. Hadits ini hasan sebagaimana dikatakan Imam Syaukani menukil dari As Suyuthi, karena 'Ashim terdapat sesuatu dalam hapalannya. Al Haitsami dalam Majma'uz Zawa'id berkata, "Para perawi Ahmad adalah tsiqah selain 'Ashim bin Abinnujud, ia diperselisihkan dalam hal berhujjah dengannya."
Haitsami dalam Majma'uz Zawa'id menyebutkan hadits lain tentang sebab turunnya ayat di atas, dari Ibnu Abbas, ia berkata: Ketika Abdullah bin Salam, Tsa'labah bin Sa'yah, Asad bin Ubaid serta beberapa orang Yahudi yang masuk Islam lainnya beriman, membenarkan dan semakin cinta dengan Islam. Para ulama yahudi yang kafir berkata, "Tidak ada yang beriman kepada Muhammad dan mengikutinya selain orang-orang buruk di antara kami. Jika mereka termasuk orang-orang yang baik, tentu mereka tidak akan meninggalkan agama nenek moyang mereka," maka Allah Azza wa Jalla menurunkan ayat, "Laisuu sawaa'aa…dst. sampai "Minash shaalihiin". (HR. Thabrani, namun dalam sanadnya terdapat Muhammad bin Abu Muhammad seorang yang majhul, dengan demikian hhadits ini dha'if).
Oleh karena itu, Ibnu Jarir memilih hadits pertama sebagai sebab turunnya ayat, ia berkata, "Hanya saja yang lebih tepat dalam menafsirkan ayat tersebut adalah pendapat yang mengatakan bahwa maksudnya bacaan Al Qur'an di shalat Isya, karena ia adalah shalat yang tidak dilakukan seorang pun di antara Ahli Kitab, maka Allah menyifati umat Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, bahwa mereka melakukan shalat pada waktu itu, tidak Ahli Kitab yang kafir kepada Allah dan Rasul-Nya."
[11] Yakni: golongan ahli kitab yang telah memeluk agama Islam.
[12] Ayat ini menerangkan tentang ibadah mereka di malam hari, lamanya tahajjud mereka dan membaca kitab Allah serta perhatian mereka yang tinggi untuk tunduk, ruku' dan sujud kepada-Nya.
[13] Sebagaimana kaum mukmin beriman, mereka beriman kepada semua nabi yang diutus dan semua kitab yang diturunkan, termasuk beriman kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam dan kitab yang diberikan kepada-Nya, yaitu Al Qur'an. Sering sekali disebutkan "beriman kepada hari akhir", karena beriman kepadanya dapat mendorong orang mukmin untuk mendekatkan diri kepada Allah, mengharap pahala di hari itu dan menjauhkan diri dari segala yang mendatangkan siksa di hari itu.
[14] Mereka memanfaatkan kesempatan yang ada untuk menambah kebaikan dan melakukannya segera, misalnya di awal waktu. Hal ini tidak lain karena rasa cintanya mereka kepada kebaikan dan mengetahui manfaat-manfaatnya.
[15] Yakni yang memiliki sifat-sifat itu.
[16] Banyak maupun sedikit. Hanya saja pahala terhadap amal mengikuti apa yang ada dalam hati, berupa keimanan dan ketakwaan. Oleh karena itu, lanjutan ayatnya adalah, " Allah Maha Mengetahui orang-orang yang bertakwa."
[17] Disebutkan "harta dan anak", karena biasanya manusia menebus dirinya dengan harta dan terkadang dengan meminta bantuan kepada anak.
[18] Yakni orang-orang kafir.
[19] Untuk menghalangi manusia dari jalan Allah dan memadamkan cahaya Allah .
[20] Dengan kekafiran dan kemaksiatan.
[21] Sehingga tanaman itu tidak dapat diambil manfaatnya. Demikian juga harta yang mereka keluarkan tersebut akan sia-sia tidak ada manfaatnya. Mereka hanya memperoleh kelelahan, kerugian dan kekecewaan.
[22] Dengan menjadikan infak mereka sia-sia.
[23] Dengan kekafiran yang menjadikannya sia-sia.
[24] Seperti orang-orang Yahudi, Nasrani dan kaum munafik.
[25] Demikian juga dilarang memberikan jabatan kepada mereka dalam urusan kaum muslimin. Pernah dikatakan kepada Umar bin Khaththab, "Sesungguhnya di sini ada seorang pemuda dari penduduk Hirah yang sanggup menjaga dan mampu menulis", maka Umar berkata, "Kalau demikian, maka saya sama saja telah mengambil teman kepercayaan selain orang mukmin."
[26] Dengan membicarakan mereka dan menyampaikan rahasia mereka kepada kaum musyrikin.
[27] Berupa permusuhan.
[28] Yang di sana terdapat hal yang bermaslahat bagi kamu baik bagi agama maupun dunia kamu.
[29] Karena hubungan kerabat dan kawan.
[30] Karena mereka menyelisihi agama kamu.
[31] Sedangkan mereka tidak beriman kepada kitabmu.
[32] Karena melihat persatuan kamu.
[33] Dalam ayat ini terdapat berita gembira bagi kaum mukmin, bahwa mereka yang hendak menimpakan bahaya kepada kaum mukmin sebenarnya hanya menimpakan bahaya kepada diri mereka sendiri, kemarahan mereka tidak dapat mereka wujudklan, bahkan mereka senantiasa tertekan karena kemarahan tersebut yang dapat membawa mereka kepada kematian, sehingga mereka berpindah dari kesengsaraan dunia menuju kesengsaraan akhirat.
[34] Seperti kemenangan dan harta rampasan perang (ghanimah).
[35] Seperti kekalahan dan musibah.
[36] Hal ini menunjukkan bahwa mereka senantiasa memusuhi kita dan tidak memberikan kesetiaan kepada kita. Oleh karena itu, janganlah kita berwala' kepada mereka.
[37] Inilah sebab kemenangan.

Tafsir Ali Imran Ayat 102-109


Ayat 102-109: Perintah bertakwa, beramr ma’ruf dan nahi munkar, berpegang dengan agama Allah serta tidak berpecah belah
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ   (١٠٢) وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ (١٠٣) وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ  (١٠٤) وَلا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَأُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ (١٠٥) يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ فَأَمَّا الَّذِينَ اسْوَدَّتْ وُجُوهُهُمْ أَكَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ فَذُوقُوا الْعَذَابَ بِمَا كُنْتُمْ تَكْفُرُونَ (١٠٦) وَأَمَّا الَّذِينَ ابْيَضَّتْ وُجُوهُهُمْ فَفِي رَحْمَةِ اللَّهِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ (١٠٧) تِلْكَ آيَاتُ اللَّهِ نَتْلُوهَا عَلَيْكَ بِالْحَقِّ وَمَا اللَّهُ يُرِيدُ ظُلْمًا لِلْعَالَمِينَ (١٠٨) وَلِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ وَإِلَى اللَّهِ تُرْجَعُ الأمُورُ (١٠٩
Terjemah Surat Ali Imran Ayat 102-109
102. Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya[1]; dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan beragama Islam.
103. Dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai[2]. Ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara, sedangkan (ketika itu) kamu berada di tepi jurang neraka[3], lalu Allah menyelamatkan kamu dari sana[4]. Demikianlah, Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk[5].
104. Dan hendaklah di antara kamu ada[6] segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan[7], menyuruh (berbuat) yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar[8]. Mereka itulah orang-orang yang beruntung.[9]

105. Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih setelah sampai kepada mereka keterangan yang jelas[10]. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat,
106.[11] Pada hari itu[12] ada wajah yang putih berseri, dan ada pula wajah yang hitam muram. Adapun orang-orang yang berwajah hitam muram[13] (kepada mereka dikatakan)[14], "Mengapa kamu kafir setelah beriman?[15] Karena itu rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu."
107. Adapun orang-orang yang berwajah putih berseri[16], mereka berada dalam rahmat Allah (surga); mereka kekal di dalamnya.
108. Itulah ayat-ayat Allah yang Kami bacakan kepada kamu dengan benar, dan Allah Tidaklah berkehendak menzalimi (siapa pun) di seluruh alam[17].
109. Milik Allah-lah[18] segala yang ada di langit dan di bumi, dan hanya kepada Allah segala urusan dikembalikan.

[1] Dalam tafsir Al Jalaalain disebutkan, bahwa ketika turun ayat ini, ada yang merasa keberatan, maka dimansukhlah dengan ayat "fattaqullah mas tatha'tum" (Maka bertakwalah kepada Allah semampu kamu) surat At Taghabun: 16, wallahu a'lam.
Di dalam hadits, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
مَا نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ فَاجْتَنِبُوْهُ، وَمَا أَمَرْتُكُمْ بِهِ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ، فَإِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِيْنَ مَنْ قَبْلَكُمْ كَثْرَةُ مَسَائِلِهِمْ وَاخْتِلاَفُهُمْ عَلَى أَنْبِيَائِهِمْ
"Apa yang aku larang, hendaklah kalian menjauhinya dan apa yang aku perintahkan maka hendaklah kalian melaksanakannya semampu kalian. Sesungguhnya binasanya orang-orang sebelum kalian adalah karena mereka banyak bertanya dan karena penentangan mereka terhadap nabi-nabi mereka." (HR. Bukhari dan Muslim)
Syaikh As Sa'diy berkata tentang tafsir ayat ini, "Ini merupakan perintah Allah kepada hamba-hamba-Nya yang mukmin agar mereka bertakwa kepada-Nya dengan sebenar-benarnya, tetap berada di atasnya dan istiqamah hingga akhir hayat. Hal itu, karena orang yang terbiasa hidup di atas sesuatu, niscaya ia akan meninggal di atasnya. Barang siapa di saat sehat, semangat dan berkemampuan tetap menjaga ketakwaan kepada Tuhannya dan mentaati-Nya serta senantiasa kembali kepada-Nya, maka Allah akan meneguhkannya ketika wafat serta mengaruniakan husnul khatimah. Bertakwa kepada Allah dengan sebenar-benar takwa sebagaimana dikatakan Ibnu Mas'ud adalah, "Dengan ditaati tidak dimaksiati, disyukuri tidak dikufuri dan diingat tidak dilupakan." Ayat ini merupakan penjelasan terhadap hak Allah Ta'ala dalam takwa, adapun yang diwajibkan bagi hamba dari ketakwaan itu adalah sebagaimana yang difirmankan Allah Ta'ala,"fattaqullah mas tatha'tum" (Maka bertakwalah kepada Allah semampu kamu). Rincian ketakwaan yang terkait dengan hati dan anggota badan sangat banyak sekali, namun terhimpun dalam "mengerjakan semua yang diperintahkan Allah dan meninggalkan semua yang dilarang-Nya". Kemudian Allah Ta'ala memerintahkan mereka melakukan hal yang membantu ketakwaan, yaitu bersatu dan berpegang teguh dengan agama Allah, di samping itu perkataan kaum mukmin adalah sama sambil bersatu tidak berpecah belah. Bersatunya kaum muslimin di atas agama mereka serta bersamanya hati dapat memperbaiki agama dan dunia mereka. Dengan bersatu, mereka bisa melakukan perkara apa pun, demikian juga mereka akan memperoleh maslahat yang banyak yang hanya bisa dilakukan secara bersama, seperti tolong-menolong di atas kebaikan dan takwa, sebagaimana dalam berpecah dan bermusuhan menjadikan kesatuannya retak, ikatannya terputus, dan masing-masing hanya bekerja dan berusaha untuk kepentingan pribadinya meskipun mengakibatkan bahaya yang merata."
[2] Setelah menjadi muslim.
[3] Di mana ketika itu tidak ada penghalang antara kalian dengan neraka selain kematian.
[4] Dengan beriman kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.
[5] Yakni dapat mengetahui yang hak serta dapat mengamalkannya. Ayat ini menunjukkan, bahwa Allah menyukai hamba-hamba-Nya yang mengingat nikmat-Nya baik dengan hati maupun lisan agar bertambah syukur dan cinta mereka kepada-Nya dan agar Dia mengaruniakan kepada mereka karunia dan ihsan-Nya. Demikian juga menunjukkan bahwa nikmat besar yang layak sekali diingat adalah nikmat beragama Islam, mengikuti Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam serta bersatunya kaum muslimin dan tidak berpecah belah.
[6] Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
وَالَّذِيْ نَفْسِي بِيَدِهِ، لَتَأْمُرُنَّ بِالْمَعْرُوْفِ، وَلَتَنْهَوُنَّ عَنِ الْمُنْكَرِ، أَوْ لَيُوْشِكُنَّ اللهُ يَبْعَثُ عَلَيْكُمْ عِقَابًا مِنْهُ، ثُمَّ تَدْعُوْنَهُ فَلاَ يَسْتَجِيْبُ لَكُمْ
"Demi Allah yang jiwaku berada di Tangan-Nya. Kamu harus melakukan amar ma'ruf dan nahi munkar, atau jika tidak, Allah bisa segera menimpakan azab dari sisi-Nya dan ketika kamu berdo'a tidak dikabulkan-Nya." (HR. Ahmad dan Tirmidzi, dihasankan oleh Al Albani dalam Shahihul Jami' no. 7070)
[7] Kebajikan (al khair) adalah segala sesuatu yang mendekatkan manusia kepada Allah dan menjauhkannya dari kemurkaan-Nya.
[8] Ma'ruf: segala perintah Allah atau yang dianggap baik oleh syara' dan akal, sedangkan munkar adalah segala yang dilarang Allah atau yang dianggap buruk oleh syara' dan akal.
[9] Ayat ini merupakan petunjuk dari Allah kepada kaum mukmin, yakni hendaknya di antara mereka ada segolongan orang yang mau berdakwah dan mengajak manusia ke dalam agama-Nya. Termasuk ke dalamnya adalah para ulama yang mengajarkan agama, para penasehat yang mengajak orang-orang non muslim ke dalam Islam, orang yang mengajak orang-orang yang menyimpang agar dapat beristiqamah, orang-orang yang berjihad fi sabilillah, dewan hisbah (lembaga amr ma'ruf dan nahi munkar) yang ditunjuk pemerintah untuk memperhatikan keadaan manusia dan mengajak manusia mengikuti syara' seperti mengajak mereka mendirikan shalat lima waktu, berzakat, berpuasa, berhaji bagi yang mampu dan mengajak kepada syari'at Islam lainnya, demikian juga memperhatikan pasar, bagaimana timbangan dan takaran yang mereka gunakan apakah terjadi pengurangan atau tidak, serta melarang mereka melakukan kecurangan dalam bermu'amalah. Semua ini hukumnya fardhu kifayah. Bahkan tidak hanya itu, segala sarana yang menjadikan sempurna amr ma'ruf dan nahi munkar, sama diperintahkan, misalnya menyediakan perlengkapan jihad untuk dapat mengalahkan musuh, mempelajari ilmu agar dapat mengajak manusia kepada kebajikan, menuliskan buku-buku yang berisikan ajaran Islam, membangun madrasah untuk mengajarkan agama, membantu pihak berwenang (dewan hisbah) mewujudkan syari'at, dsb. Mereka inilah orang-orang yang beruntung, yakni memperoleh apa yang mereka inginkan dan selamat dari hal yang mereka khawatirkan. Pada ayat selanjutnya, Allah Subhaanahu wa Ta'aala melarang mereka bertasyabbuh (menyerupai) Ahli Kitab yang berpecah belah dalam beragama, terlebih perpecahan mereka terjadi setelah datang keterangan yang jelas.
[10] Yakni seterah mengetahui bahwa sikap mereka menyelisihi perintah Allah.
[11] Dalam ayat ini, Allah Subhaanahu wa Ta'aala memberitakan tentang keadaan pada hari kiamat dan atsar (pengaruh) dari balasan yang adil atau lebih baik, di mana di dalamnya terdapat targhib (dorongan) dan tarhib (ancaman) agar seseorang memiliki rasa takut dan harap.
[12] Yakni hari kiamat.
[13] Mereka adalah orang-orang kafir.
[14] Ketika mereka dilemparkan ke dalam neraka.
[15] Maksudnya: "Bagaimana kamu lebih mengutamakan kekafiran dan kesesatan daripada keimanan dan petunjuk?"
[16] Mereka adalah orang-orang mukmin.
[17] Misalnya menyiksa mereka tanpa ada kesalahan atau dosa dan mengurangi kebaikan yang mereka lakukan.
[18] Yakni milik-Nya, ciptaan-Nya dan hamba-Nya. Allah-lah yang memiliki segala yang ada di langit dan di bumi, Dia-lah yang menciptakan mereka, memberi rezki kepada mereka dan mengatur mereka dengan qadar-Nya, syari'at-Nya dan perintah-Nya. Semua akan kembali kepada-Nya pada hari kiamat, dan Dia akan memberikan balasan amal mereka yang baik maupun yang buruk.

Tafsir Surat Ali Imran Ayat 92-101


Juz 4
Ayat 92-94: Menerangkan tentang fiqh infak, dan bantahan terhadap larangan orang Yahudi tentang makanan
لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ (٩٢) كُلُّ الطَّعَامِ كَانَ حِلا لِبَنِي إِسْرَائِيلَ إِلا مَا حَرَّمَ إِسْرَائِيلُ عَلَى نَفْسِهِ مِنْ قَبْلِ أَنْ تُنَزَّلَ التَّوْرَاةُ قُلْ فَأْتُوا بِالتَّوْرَاةِ فَاتْلُوهَا إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (٩٣) فَمَنِ افْتَرَى عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ (٩٤
Terjemah Surat Ali Imran Ayat 92-94
92.[1] Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai[2]. Dan apa pun yang kamu infakkan[3], maka sesungguhnya Allah mengetahuinya[4].
93.[5] Semua makanan itu halal bagi Bani Israil, kecuali makanan yang diharamkan oleh Israil (Yakub) untuk dirinya sendiri[6] sebelum Taurat diturunkan[7]. Katakanlah (Muhammad), "(Jika kamu mengatakan ada makanan yang diharamkan sebelum turun Taurat), maka bawalah Taurat itu, lalu bacalah, jika kamu orang-orang yang benar".


94. Barang siapa mengadakan kedustaan terhadap Allah[8] setelah itu[9], maka mereka itulah orang-orang yang zalim[10].
Ayat 95-97: Menerangkan tentang Nabi Ibrahim ‘alaihis salam, pembangunannya terhadap Ka’bah, bantahan terhadap pengakuan Ahli Kitab tentang rumah ibadah yang pertama dan menetapkan kewajiban haji dalam Islam
قُلْ صَدَقَ اللَّهُ فَاتَّبِعُوا مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ (٩٥)إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِلْعَالَمِينَ (٩٦)فِيهِ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ مَقَامُ إِبْرَاهِيمَ وَمَنْ دَخَلَهُ كَانَ آمِنًا وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلا وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ (٩٧
Terjemah Surat Ali Imran Ayat 95-97
95. Katakanlah (Muhammad), "Benarlah (segala yang difirmankan) Allah." Maka ikutilah agama Ibrahim yang lurus[11], dan dia tidaklah termasuk orang yang musyrik.
96.[12] Sesungguhnya rumah (ibadah) pertama yang dibangun untuk manusia, ialah (Baitullah) yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi seluruh alam[13].
97. Di sana terdapat tanda-tanda yang jelas, (di antaranya) maqam Ibrahim[14]. Barang siapa memasukinya (Baitullah) amanlah dia[15]. Dan (di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah[16], yaitu bagi orang-orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana[17]. Barang siapa mengingkari (kewajiban) haji, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari seluruh alam[18].
Ayat 98-101: Peringatan terhadap umat Islam agar tidak menaati dan tidak berwala’ kepada Ahli Kitab, sertakeharusan menjaga persatuan
قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لِمَ تَكْفُرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَاللَّهُ شَهِيدٌ عَلَى مَا تَعْمَلُونَ (٩٨) قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لِمَ تَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ مَنْ آمَنَ تَبْغُونَهَا عِوَجًا وَأَنْتُمْ شُهَدَاءُ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ (٩٩)يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تُطِيعُوا فَرِيقًا مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ يَرُدُّوكُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ كَافِرِينَ (١٠٠) وَكَيْفَ تَكْفُرُونَ وَأَنْتُمْ تُتْلَى عَلَيْكُمْ آيَاتُ اللَّهِ وَفِيكُمْ رَسُولُهُ وَمَنْ يَعْتَصِمْ بِاللَّهِ فَقَدْ هُدِيَ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ (١٠١
Terjemah Surat Ali Imran Ayat 98-101
98. Katakanlah (Muhammad), "Wahai Ahli Kitab! Mengapa kamu mengingkari ayat-ayat Allah (Al Qur'an), padahal Allah Maha menyaksikan apa yang kamu kerjakan?"
99. Katakanlah (Muhammad), "Wahai ahli Kitab! Mengapa kamu menghalang-halangi orang-orang yang beriman dari jalan Allah[19], kamu menghendakinya (jalan Allah) menjadi bengkok, padahal kamu menyaksikan?"[20]. Allah tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan[21].
100.[22] Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu mengikuti sebagian dari orang yang diberi Al Kitab, niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi orang kafir setelah beriman.
101. Bagaimana kamu (sampai) menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepada kamu, dan Rasul-Nya (Muhammad) pun berada di tengah-tengah kamu?[23] Barang siapa berpegang teguh kepada (agama) Allah, maka sesungguhnya dia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.

[1] Ayat ini merupakan dorongan Allah kepada hamba-hamba-Nya untuk menginfakkan harta pada jalan-jalan kebaikan.
[2] Orang yang lebih mencintai Allah akan rela mengorbankan harta yang dicintainya dengan menginfakkannya di jalan-jalan yang diridhai-Nya. Termasuk ke dalam menginfakkan harta yang dicintainya adalah berinfak ketika orang yang berinfak membutuhkannya dan berinfak ketika kondisi sehat dan berat mengeluarkannya; dalam kondisi di mana ia khawatir miskin dan mengharap kaya. Ayat ini menunjukkan bahwa tingkat kebajikan seorang hamba tergantung sejauh mana kerelaan menginfakkan harta yang dicintainya.
[3] Agar tidak ada kesan bahwa menginfakkan harta jika tidak seperti yang disebutkan berarti tidak bermanfaat, maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala menerangkan bahwa apa saja yang kita infakkan, besar maupun kecil, dicintai atau tidak harta itu, maka Allah akan membalasnya sesuai niat dan manfaat barang yang diinfakkan.
[4] Sehingga Dia pun akan memberikan balasan.
[5] Dalam tafsir Al Jalalain diterangkan, bahwa ayat ini turun ketika orang-orang Yahudi berkata, "Sesungguhnya kamu mengaku berada di atas agama Nabi Ibrahim, padahal ia tidak memakan daging unta dan susunya." Syaikh As Sa'diy dalam Tafsirnya menerangkan, bahwa ayat ini merupakan bantahan terhadap orang-orang Yahudi yang menyangka bahwa penghapusan hukum tidak boleh terjadi, oleh karenanya mereka kafir kepada Nabi Isa 'alaihis salam dan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, di mana keduanya datang dengan membawa hukum yang sebagiannya berbeda dengan hukum yang ada pada Taurat dalam hal yang halal dan yang haram.
[6] Yaitu daging unta dan susunya karena nadzarnya ketika ia menderita sakit 'irqun nasaa (semacam encok), di mana apabila ia sembuh, niscaya ia tidak akan memakan makanan yang paling disukainya, yaitu daging unta, demikian pula susunya. Kemudian keturunan Nabi Ya'qub pun mengikutinya, dan hal itu terjadi sebelum Taurat diturunkan.
[7] Yakni setelah Nabi Ibrahim 'alaihis salam, namun pada masa Beliau makanan tersebut tidak diharamkan. Setelah Taurat diturunkan, ada beberapa makanan yang diharamkan bagi mereka sebagai hukuman. Nama-nama makanan itu disebut di dalamnya. Selanjutnya lihat surat An Nisa' ayat 160 dan surat Al An'aam ayat 146.
[8] Dusta terhadap Allah ialah dengan mengatakan bahwa sebelum Taurat diturunkan, Allah telah mengharamkan beberapa makanan kepada Bani Israil.
[9] Yakni setelah jelas hujjah, bahwa pengharaman tersebut hanya dari diri Nabi Ya'qub 'alaihis salam saja, tidak dari masa Nabi Ibrahim 'alaihis salam.
[10] Kezaliman apa yang lebih besar daripada kezaliman orang yang diajak untuk menggunakan kitabnya, lalu menolaknya dengan sombong dan bersikeras di atas pendiriannya. Ayat ini termasuk bukti kebenaran kenabian Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.
[11] Di mana Beliau (Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam) berada di atasnya. 'Yang lurus' di sini maksudnya menyelisihi semua agama selain Islam. Agama Nabi Ibrahim adalah Islam, karena Beliau di atas tauhid dan tidak berada di atas syirk.
[12] Ayat ini turun ketika Ahli Kitab mengatakan, bahwa kiblat mereka lebih dulu dibangun sebelum kiblat kaum muslimin. Maka Allah membantahnya, yakni bahwa rumah ibadah yang pertama kali dibangun adalah Ka'bah, baru kemudian Al Aqsha. Jarak antara keduanya sebagaimana dalam hadits adalah 40 tahun.
[13] Yakni kiblat mereka.
[14] Maqam Ibrahim Ialah tempat Nabi Ibrahim 'alaihis salam berdiri membangun Ka'bah, yaitu Hijr. Sebelumnya, hijr tersebut menempel dengan dinding Ka'bah, namun pada zaman Umar radhiyallahu 'anhu, diletakkan di tempat yang ada sekarang. Ada yang mengatakan, bahwa tanda yang terdapat di sana adalah bekas injakan kedua kaki Nabi Ibrahim 'alaihis salam yang membekas di batu, dan hal itu masih terlihat sampai di masa-masa pertama umat Islam. Ada pula yang mengatakan, bahwa tanda di dalamnya adalah apa yang Allah tanamkan ke dalam hati manusia berupa rasa ta'zhim (penghormatan) kepada Baitullah. Ada pula yang berpendapat, bahwa yang dimaksud maqam Ibrahim di sini adalah maqam-maqam (posisi-posisi) Beliau di semua tempat manasik, sehingga termasuk di dalamnya semua bagian haji, di mana masing-masingnya terdapat tanda yang jelas seperti thawaf, sa'i dan tempatnya, wuquf di 'Arafah dan Muzdalifah, melempar jamrah dan syi'ar-syi'ar lainnya. Sedangkan maksud tanda di sana adalah apa yang Allah tanamkan dalam hati manusia berupa rasa hormat dan ta'zhim kepadanya, mereka rela mengorbankan jiwa dan harta untuk dapat sampai ke sana serta siap memikul beban-beban perat untuknya, di samping itu di dalamnya juga terdapat rahasia dan makna yang tinggi. Bahkan dalam pekerjaan haji pun terdapat hikmah dan maslahat yang sangat banyak.
[15] Termasuk tanda yang jelas juga adalah bahwa orang yang memasukinya akan aman baik secara syara' maupun taqdir. Secara syara' adalah, bahwa Allah memerintahkan rasul-Nya untuk menghormatinya dan mengamankan orang yang memasukinya serta tidak boleh diserang, bahkan sampai mengena pula kepada hewan buruannya, pepohonan dan tumbuh-tumbuhan. Sebagian ulama ada yang berpendapat berdasarkan ayat ini, bahwa barang siapa yang melakukan tindak pidana di luar tanah haram, lalu ia berlindung ke baitullah, maka ia akan aman dan tidak ditegakkan had sampai ia keluar daripadanya. Adapun aman secara taqdir adalah, bahwa Allah Subhaanahu wa Ta'aala dengan taqdir-Nya menetapkan dalam diri manusia, termasuk orang-orang kafir dan musyrik untuk menghormatinya. Lebih dari itu, orang yang berniat jahat terhadap Baitullah, Allah memberikan hukuman segera kepadanya sebagaimana yang terjadi pada As-habul Fiil (tentara bergajah yang hendak menghancurkan ka'bah).
[16] Sebelum menyebutkan kewajiban haji, Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyebutkan kelebihan-kelebihan Baitullah yang menjadikan hati manusia berkeinginan untuk pergi ke sana, kelebihan itu adalah:
Pertama, sebagai rumah ibadah pertama di dunia.
Kedua, mendapatkan keberkahan, di mana tidak ada rumah yang paling banyak berkahnya dan paling banyak manfaatnya bagi manusia dibanding Baitullah.
Ketiga, sebagai petunjuk bagi manusia
Keempat, terdapat tanda-tanda.
Kelima, orang yang memasukinya akan aman.
Kalau pun kelebihan di atas tidak disebutkan, tetapi hanya cukup dengan penyandaran kepada-Nya, yakni sebagai "rumah-Nya", maka hal itu pun sudah cukup.
[17] Yaitu: orang yang sanggup mendapatkan perbekalan, alat-alat pengangkutan, sehat jasmani dan perjalanan pun aman serta kleluarga yang ditinggalkannya terjamin kehidupannya.
[18] Allah Maha Kaya, tidak memerlukan manusia, jin, malaikat dan ibadah mereka.
[19] Yakni dari agama-Nya, dengan mendustakan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam dan menyembunyikan nikmat yang diberikan kepadanya.
[20] Menyaksikan maksudnya mengetahui bahwa agama yang diridhai Allah adalah agama Islam sebagaimana yang ada dalam kitab mereka.
[21] Bahkan Allah meliputi amal mereka, niat mereka dan rencana jahat mereka dan akan memberikan balasan terhadap pekerjaan mereka. Pekerjaan mereka misalnya kafir, mendustakan dan menghalangi manusia dari jalan Allah. Di ayat 98-99, Allah Subhaanahu wa Ta'aala mencela orang-orang Yahudi dan Nasrani karena kekafiran mereka kepada ayat-ayat-Nya yang diturunkan kepada Rasul-Nya, padahal ayat tersebut Allah jadikan sebagai rahmat bagi hamba-hamba-Nya agar mereka dapat mengambilnya sebagai petunjuk. Namun mereka (Ahli Kitab) malah mengingkarinya, bahkan tidak hanya itu, mereka juga menghalangi manusia dari jalan Allah dan menginginkannya menjadi bengkok.
[22] Ayat ini turun ketika sebagian orang-orang Yahudi melewati kabilah Aus dan Khazraj. Bersatunya mereka membuat orang-orang Yahudi menjadi jengkel, maka mereka pun mengingatkan masa lalu kabilah Aus dan Khazraj di zaman jahiliyyah. Akibatnya, dua kabilah itu saling bertengkar dan hampir saja terjadi peperangan. Di ayat ini, Allah Subhaanahu wa Ta'aala mengingatkan hamba-hamba-Nya agar tidak termakan oleh tipu daya mereka.
[23] Dalam ayat ini, Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyebutkan sebab terbesar yang menjadikan kaum mukmin dapat tetap kokoh di atas keimanan mereka dan tidak goyah, yaitu dengan seringnya dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya sebagaimana yang biasa mereka dengarkan dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ketika shalat maupun pada beberapa kesempatan.